BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Filsafat barat abad pertengahan (476-1492 M) juga dapat dikatakan sebagai abad gelap. Berdasarkan pada pendekatan sejarah gereja, saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia. Manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Para ahli pikir saat itu juga tidak memiliki kebebasan berpikir. Apalagi terdapat pemikiran- pemikiran yang bertentangan dengan agama ajaran gereja. Siapa pun orang yang mengemukakannya akan mendapat hukuman berat.
Filsafat adalah salah satu ilmu pengetahuan mengenai proses berpikir manusia dalam mencari suatu kebenaran yang hakiki. Filsafat terbagi dalam beberapa kurun waktu termasuk yang terjadi di wilayah Eropa. Masa abad pertengahan dibagi menjadi dua masa yaitu masa patristik dan masa skolastik. Dan pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai filsafat skolastik.
Rumusan Masalah
Pengertian filsafat skolastik
Faktor yang mendorong berkembangnya filsafat skolastik
Periodesasi masa skolastik
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Filsafat Skolastik
Istilah skolastik berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Atau diambil dari kata schuler yang berarti ajaran atau sekolahan. Filsafat skolastik ini di dalamnya banyak diupayakan pengembangan ilmu pengetahuan di sekolah – sekolah. Pengajarannya meliputi studi duniawi atau artes liberals, meliputi mata pelajaran gramatika, geometri, arithmatika, astronomi, musika, dan dialektika. Dialektika ini sekarang disebut logika dan kemudian meliputi seluruh filsafat. Selain itu juga terdapat pendapat lain yang megatakan bahwa skolastik bermula dari perkataan “colastikus” yang dimaksudkan untuk guru yang mengajar di sekolah-sekolah atau “keluaran sekolah”. Dari segi sejarah skolastik berarti ajaran-ajaran sekolah gereja yang didirikan oleh Charlemagne, dengan maksud untuk menegakkan kembali ajaran-ajaran agama Masehi yang telah banyak dirusak oleh serangan bangsa Gaul Perancis. Jadi skolastik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah.
Terdapat beberapa pengertian dari corak khas skolastik, yaitu: Pertama, filsafat skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama. Karena skolastik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religius. Kedua, filsafat skolastik adalah filsafat yang mengabdi kepada teologi, atau filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada, kejasmanian, baik buruk. Ketiga, filsafat skolastik adalah suatu sistem filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat, akan dimasukkan ke dalam bentuk sintesa yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal. Keempat, filsafat skolastik adalah filsafat nasrani, karena banyak dipengaruhi oleh ajaran gereja.
Telah disebutkan di atas bahwa filsafat masa skolastik merupakan filsafat yang tumbuh pada abad pertengahan, dimana pada masa ini sendiri sering disebut sebagai “abad gelap” atau “masa kegelapan”. Hal ini disebabkan kerena pertama, abad pertengahan adalah masa kebodohan dan kegelapan yang harus dilalui untuk sampai kepada renaissance, masa terang dan pengetahuan. Kedua, filsafat skolastik diajarkan dan ditulis dengan menggunakan bahasa latin yang tidak tinggi, berkelebihan memakai syllogism dan perdebatan-perdebatan kosong serta hanya membicarakan soal-soal agama. Selain itu filsafat tersebut berlandaskan dalil tradisionil bukan fikiran, artinya tunduk kepada kekuasaan pembesar-pembasar gereja kekuasaan Aristoteles tanpa diteliti.
Abad pertegahan ini juga dapat dikatan sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya menggiring manusia ke dalam kehidupan / sistem kepercayaan yang picik dan fanatik, dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta. Karena itulah perkembangan ilmu pengetahuan terhambat. Mereka tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan pemikiran kritis mereka akibat pengawasan gereja yang amat ketat. Apabila terdapat pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, makan orang yang mengemukakannya akan mendapatkan hukuman berat dan bahkan hukuman mati.
Faktor yang Mendorong Berkembangnya Filsafat Skolastik
Filsafat skolastik ini dapat berkembang dan tumbuh karena beberapa faktor, yaitu:
Faktor Religius
Yang dimaksud dengan faktor religius adalah keadaan lingkungan saat itu yang berperikehidupan religius. Mereka beranggapan bahwa hidup di dunia ini suatu perjalanan ke tanah suci Yerussalem. Dunia ini bagaikan negeri asing, dan sebagai tempat pembuangan limbah air mata saja (tempat kesedihan). Sebagai dunia yang menjadi tanah airnya adalah surga. Manusia tidak dapat sampai ke tanah airnya (surga) dengan kemampuannya sendiri, sehingga harus ditolong. Karena manusia iru menurut sifat kodratnya mempunyai cela atau kelemahan yang dilakukan (diwariskan) oleh Adam. Mereka juga berkeyakinan bahwa Isa anak Tuhan berperan sebagai pembebas dan pemberi bahagia. Ia akan memberi pengampunan sekaligus menolongnya. Maka hanya dengan jalan pengampunan inilah manusia dpata tertolong agar dapat mencapai tanah airnya (surga). Anggapan dan keyakinan inilah yang dijadikan dasar pemikiran filsafatnya.
Faktor Ilmu Pengetahuan
Pada saat itu telah banyak didirikan lembaga pengajaran yang diupayakan oleh biara-biara, gereja ataupun dari keluarga istana, dan kepustakaannya diambilkan dari para penulis Latin, Arab (Islam), dan Yunani.
Periodesasi Masa Skolastik
Secara garis besar filsafat abad pertengahan ini dibagai menjadi dua periode, yaitu: Periode Skolastik Islam dan Periode Skolastik Kristen.
Periode Filsafat Skolastik Islam (Arab)
Kendati Islam sudah dikenal oleh dunia sejak abad VII Masehi, namun filsafat di kalangan kaum Muslim baru dimulai pada awal abad VIII. Ini disebabkan karena pada abad pertama perkembangan Islam tidak terdapat isme-isme atau paham-paham selain wahyu. Di kalangan kaum Muslim filsafat dianggap berkembang dengan baik dimulai abad IX Masehi hingga abad XII. Keberadaan filsafat pada masa ini juga menandai masa kegemilangan dunia Islam, yaitu selama masa Daulah Abbasiyah di Bagdad (750-1258) dan Daulah Amawiyah di Spanyol (755-7492).
Menurut Hasbullah Bakry, istilah skolastik Islam jarang dipakai dalam khazanah pemikiran Islam. Istilah yang sering dipakai adalah ilmu kalam atau filsafat Islam. Kedua ilmu tersebut dalam pembahasannya dipisihkan. Periode skolastik Islam dapat dibagi ke dalam empat masa, yaitu:
Periode Kalam Pertama
Periode ini ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok mutakallimin / aliran-aliran dalam ilmu kalam, yakni:
Khawarij
Murjiah
Qadariyah
Jabariyah
Mu’tazilah
Ahli Sunnah
Aliran yang paling menonjol adalah Mu’tazilah yang dimotori oleh Wasil bin Atha dan dianggap sebagai rasionalisme Islam. Timbulnya aliran ini antara lain sebagai jawaban atas tantangan-tantangan yang timbul berupa paham-paham mengenai masalah Tuhan dan hubungan manusia dengan Tuhan, yaitu paham tasybih (antropomorphisme), jabariyah (determinisme), dan khawarij (paham teokratik). Mu’tazilah memberi jawaban dengan konsep-konsep dan ajarannya, yaitu:
Keesaan Tuhan (al-tauhid)
Mereka meyakini bahwa Allah di sucikan dari perumpamaan dan permisalan (laisa kamislihi syai-un) dan tidak ada yang mampu menentang kekuasaan-Nya serta tidak berlaku pada-Nya apa yang berlaku pada manusia. Ini adalah faham yang benar, akan tetapi dari sini mereka menghasilkan konklusi yang bathil: kemustahilan melihat Allah SWT sebagai konsekwensi dari penegasian sifat-sifat (yang menyerupai manusia), dan keyakinan bahwa Al-Qur’an adlah makhluk sebagai konsekwensi dari penegasan Allah memiliki sifat kalam.
Kebebasan kehendak (al-iradah)
Keadilan Tuhan (al-‘adalah)
Maksud mereka dengan keadilan Allah SWT adalah bahwa Allah SWT tidak menciptakan perbuatan hamba-hamba-Nya dan tidak menyukai kerusakan. Akan tetapi hamba-hamba-Nyalah yang melakukan apa-apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa-apa yang dilarang-Nya dengan kekuatan yang Allah SWT jadikan buat mereka.
Posisi tengah (al-munzilah bin al-manzilatain)
Maksud mereka adalah bahwa pendosa besar berada di antara dua kedudukan, ia tidak berada dalam kedudukan mukmin juga kafir.
Amar ma’ruf nahi munkar (al-amr bi ma’ruf wa al nahy ‘an al-munkar)
Mereka menetapkan bahwa hal ini adalah kewajiban seluruh mu’min sebagai bentuk penyebaran dakwah Islam, penyampaian hidayah bagi mereka yang tersesat, dan bimbingan bagi mereka yang menyimpang.
Pemikiran mu’tazilah menggunakan akal sebagai satu-satunya sandaran pemikiran mereka. Oleh karena itu, terkenallah bahwa mu’tazilah adalah pengusung teologi nasionalitas, yang bercirikan:
Pertama, kedudukan akal tinggi di dalamnya, sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiyah.
Kedua, akal menunjukkan kekuatan manusia, maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat, yaitu manusia dewasa, berlainan dengan anak kecil, mampu berdiri sendiri, mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan, dan mampu berpikir secara mendalam.
Ketiga, pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan konsep Tuhan Yang Maha Adil. Keadilan Tuhanlah yang membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan, dalam Al-qur’an disebut sunnatullah, yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini.
Periode Filsafat Pertama
Periode ini ditandai dengan munculnya ilmuan dan ahli-ahli dalam berbagai bidang yang menaruh perhatian terhadap filsafat Yunani, terutama filsafat Aristoteles.
Periode filsafat Islam pertama adalah periode munculnya filsuf-filsuf Muslim di wilayah Timur, masing-masing adalah:
Al-Kindi (806-873 M)
Al-Razi (865-925 M)
Al-Farabi (870-950 M)
Ibnu Sina (980-1037 M)
Periode Kalam Kedua
Periode ini ditandai dengan tampilnya tokoh-tokoh kalam penting dan besar pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu kalam berikutnya, mereka antara lain:
Al-Asy’ari (873-957 M)
Semula ia adalah penganut mu’tazilah, tetapi karena tidak puas dengan keterangan-keterangan yang diberikan oleh gurunya, Al-Juba’i, akhirnya ia keluar dari mu’tazilah. Aliran dan pahamnya disebut Asy’ariyah. Di samping Asy’ariyah juga Al-Mutudiri.
Al-Ghazali (1065-1111 M)
Ia adalah sosok Muslim yang berpengaruh besar terhadap dunia Islam. Ia bergelar “hujjatul Islam” (benteng Islam). Semula ia adalah seorang mutakallimun, namun karena kemudian ia tidak menemukan kepuasan dengan metode-metode pemikiran kalam, ia beralih ke lapangan filsafat. Namun di filsafat ia juga tidak menemukan kepuasan dan akhirnya beralih ke lapangan tasawuf. Di bidang terakhir inilah ia menemukan sesuatu yang dicarinya. Sikapnya terhadap filsafat dan filsuf tercermin dalam bukunya Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf).
Periode Filsafat Kedua
Periode ini ditandai dengan tampilnya sarjana-sarjana dan ahli-ahli dalam berbagai bidang yang juga meminati filsafat. Mereka hidup dalam masa Daulah Amawiyah di Spanyol (Eropa) pada saat Eropa sedang dalam masa kegelapan. Dengan tampilnya para filsuf Muslim di Eropa ini, ilmu dan peradaban tumbuh berkembang dan terus meningkat. Mereka adalah:
Ibnu Bajjah (1100-1138 M), di Barat di kenal Avempace
Ibnu Thufail (1885 M), di Barat dikenal Abubacer
Ibnu Rusyd (1126-1198 M), di Barat dikenal Averroce
Sampai pertengahan abad ke-12 orang-orang Barat belum mengenal filsafat Aristoteles secara keseluruhan. Skolastik Islamlah yang membawakan perkembangan filsafat di Barat. Para ahli pikir Islam (periode skolastik Islam) ini adalah Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, dan lainnya. Peran mereka besar sekali, tidak hanya dalam pemikiran filsafat saja tetapi juga memberikan sumbangan yang tidak kecil bagi Eropa dalam bidang ilmu pengetahuan. Namun banyak buku filsafat dan sejenisnya mengenai peranan para ahli pikir Islam atas kemajuan dan peradaban Barat yang sengaja disembunyikan disebabkan mereka (Barat) tidak mengakui secara terus terang jasa para ahli pikir Islam dalam mengantarkan kemodernan Barat.
Periode Kebangkitan
Periode ini dimulai dengan adanya kesadaran dan kebangkitan kembali dunia Islam setelah mengalami kemerosotan alam pikiran sejak abad XV hingga abad XIX. Oleh karenanya, periode ini disebut juga sebagai Renaissans Islam. Di antara tokoh yang berpengaruh pada periode ini adalah Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Iqbal, dan masih banyak lagi.
Periode Filsafat Skolastik Kristen
Periode skolastik Kristen dalam sejarah perkembangannya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu masa skolastik awal, masa skolastik keemasan, masa skolastik akhir.
Masa Skolastik Awal (Abad 9-12 M)
Masa ini merupakan kebangkitan pemikiran abad pertengahan setelah terjadi kemerosotan. Kemerosotan pemikiran filsafat pada masa pra-Yunani disebabkan kuatnya domisili golongan gereja. Pada saat ini muncul ilmu pengetahuan yang dikembangkan di sekolah-sekolah. Mulanya skolastik timbul pertama kalinya di Biara Italia Selatan dan akhirnya berpengaruh ke daerah-daerah lain. Pada sekolah-sekolah saat ini diterapkan kurikulum ajaran yang meliputi studi duniawi atau arts liberals yang meliputi tata bahasa, retorika, dialektika (seni diskusi), ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan, dan music. Pada masa ini persoalan pemikiran yang paling menonjol adalah hubungan antara rasio dengan wahyu (agama).
Menurut Anelmus rasio dapat dihubungkan atau digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan. Sebaliknya agama atau kepercayaan dapat menolong rasio. Hubungan antara rasio dan agama dirumuskan dengan pertama, “Credo Ut In Telligam” (saya percaya supaya saya mengerti) maksudnya, orang yang mempunyai kepercayaan agama akan lebih mengerti segalanya. Kedua, adalah “Universalia” yang berarti pengertian umum seperti kemanusiaan, kebaikan, keindahan, dsb.
Terhadap persoalan ini, ada tiga pendapat:
Ultra-realisme. Pendapat ini mengatakan bahwa universalia adalah perkara-perkara atau esensi yang benar-benar ada, lepas dari penggambaran dalam pikiran. Dengan kata lain, universalia mempunyai nilai objektif lepas dari subjek yang menggambarkannya. Misalnya kemanusiaan memang merupakan sesuatu yang riil. Manusia-manusia individual hanya merupakan kasus spesifik dari yang umum itu. Tokoh terkenal yang menganut realism ialah Gulielmus dari Campeaux (1007-1120 M).
Nominalisme. Berpendapat bahwa universalia hanyalah nama atau bunyi saja (flatus voice) dan tidak ada dalam relitas. Jadi, universalia tidak mempunyai nilai objektif pada bendanya tetapi hanyalah merupakan penggambaran dalam pikiran manusia. Tokoh terkenal dalam aliran ini ialah Ressoellinus dari Comiege (1050-1120 M).
Moderato Realisme. Menyikapi perbedaan dua aliran di atas, moderato realism mengambil jalan tengah dengan menyatakan bahwa universalia yang nyata tidak ada pada dirinya sendiri. Yang ada hanyalah ide tentang universalia yang ada pada pikiran manusia. Tetapi gambaran atau ide ini ada dasarnya yang objektif, artinya di luar pikiran, yaitu pada kemiripan yang nyata dari satuan-satuan sesuatu golongan. Tokoh aliran ini adalah Thomas Aquinas dan Petrus Abaelardus (1079-1180 M).
Petrus Abaelardus, ini dilahirkan di Le Pallet, Prancis. Ia mempunyai kepribadian yang keras dan pandangannya sangat tajam sehingga sering kali bertengkar dengan para ahli pikir dan pejabat gereja. Ia termasuk orang yang konseptualisme dan sarjana terkenal dalam sastra romantik sekaligus rasionalistik, artinya peranan akal dapat menundukkan kekuatan iman. Iman harus mau didahului akal. Yang harus dipercaya adalah apa yang telah disetujui atau diterima oleh akal.
Berbeda dengan Anelmus, yang mengatakan bahwa berpikir harus sejalan dengan iman, Abaelardus memberikn alasan bahwa berpikir itu berbeda di luar iman (di luar kepercayaan). Karena itu berpikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Hal ini sesuai dengan metoda dialektika yang tanpa ragu-ragu ditunjukkan dalam teologi, yaitu bahwa teologi harus memberikan tempat bagi semua bukti-bukti. Dengan demikian, dalam teologi itu iman hampir kehilangan tempat. Ia mencontohkan, seperti ajaran Trinitas juga berdasarkan pada bukti-bukti, termasuk bukti dalam wahyu Tuhan.
Masa Skolastik Keemasan
Saat sejak pertengahan abad ke-12 karya-karya non-Kristiani mulai muncul dan filsuf Islam mulai berpengaruh. Masa ini merupakan masa kejayaan skolastik yang berlangsung dari tahun 1200-1300 M. Masa ini juga disebut masa berbunga, disebabkan bersamaan dengan munculnya beberapa universitas-universitas dan ordo-ordo yang menyelenggarakan pendidikan ilmu pengetahuan.
Ada beberapa faktor yang menjadikan masa skolastik mencapai keemasan, yaitu:
Adanya pengaruh dari Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad ke-12 hingga pada abad ke-13 telah tumbuh menjadi ilmu pengetahuan yang luas.
Tahun 1200 M didirikan Universitas Almamater di Prancis. Universitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater inilah sebagai embrio berdirinya universitas di Paris, Oxford, Montpellier, Cambridge, dan lain-lainnya.
Berdirinya ordo-ordo karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13. Hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan keruhanian saat kebanyakan tokoh-tokohnya memegang peranan di bidang filsafat dan teologi, seperti Albertus de Grote, Thomas Aquinas, Binaventura, J.D. Scotus, William Ocham.
Upaya Pengkristenissasian Ajaran Aristoteles
Menurut Augustinus, dia beranggapan bahwa ajaran Aristoteles yang mulai dikenal pada abad ke-12 telah diolah dan tercemar oleh filsuf Arab (Islam). Ini dianggap sangat membahayakan ajaran Kristen. Untuk menghindari pencemaran tersebut, maka Albertus Magnus dan Thomas Aquinas sengaja menghilangkan unsur-unsur atau selipan dari Ibnu Rusyd, dengan menerjemahkan langsung dari bahasa latinnya. Tak hanya itu, bagian-bagian ajaran Aristoteles yang bertentangan dengan ajaran Kristen juga diganti dengan teori-teori baru yang bersumber pada ajaran Aristoteles dan diselaraskan dengan ajaran ilmiah. Upaya Thomas Aquinas ini sangat berhasil dengan ditandai terbitnya buku Summa Theologiae, dan ini sekaligus telah membuktikan bahwa ajaran Aristoteles telah mendapatkan kemenangan dan sangat mempengaruhi seluruh perkembangan skolastik. Tokoh yang paling terkenal masa ini adalah Albertus Magnus dan Thomas Aquinas.
Albertus Magnus
Di samping sebagai biarawan Albertus Magnus juga dikenal sebagai cendekiawan abad pertengahan. Ia lahir dengan nama Albert Von Bollstadt yang juga dikenal sebagai “doctor universalis” dan “doctor magnus”, kemudian bernama Albertus Magnus. Ia mempunyai kepandaian luarbiasa. Di Universitas Padua ia belajar artes liberals, ilmu-ilmu pengetahuan alam, kedokteran, filsafat Aristoteles, belajar teologi di Bulogna dan masuk ordo Diminican tahun 1223, kemudian masuk ke Koln menjadi dosen filsafat dan teologi.
Terakhir dia diangkat sebagai uskup agung. Pola pemikiran-nya meniru Ibnu Rusyd dalam menulis tentang Aristoteles. Dalam bidang ilmu pengetahuan, ia mengadakan penelitian dalam ilmu biologi dan ilmu kimia.
Thomas Aquinas
Nama sebernarnya adalah Santo Thomas Aquinas, yang artinya Thomas yang suci dari Aquinas. Disamping sebagai ahli pikir ia juga seorang dokter gereja bangsa Italia. Ia lahir di Rocca Secca, Napoli, Italia. Ia sebagai tokoh terbesar skolastisisme, salah seorang tokoh suci gereja Katolik Romawi dan pendiri aliran yang dinyatakan menjadi filsafat resmi gereja Katolik. Ia termasuk murid Albertus Agung, di Paris dan di Kolm (1245-1252). Mulai 1252 seumur hidupnya ia mengajar di universitas-universitas, di Italia dan di Paris. Dan tahun 1259 menjadi guru besar dan penasehat istana Paus.
Ia berperan penting sekali dalam perdebatan-perdebatan antara universitas-universitas dan ordo-ordo membiara. Terutama dialah yang membela ajaran Aristoteles terhadap serangan aliran lain. Ia berusaha untuk membuktikan, bahwa iman Kristen secara penuh dapat dibenarkan dengan pemikiran logis. Ia telah menerima pemikiran Aristoteles sebagai otoritas tertinggi tentang pemikirannya yang logis.
Thomas sendiri menyadari bahwa tidak dapat menghilangkan unsur-unsur Aristoteles. Bahkan ia menggunakan ajaran Aristoteles, tetapi sistem pemikirannya berbeda. Masukknya unsur Aristoteles ini didorong oleh kebijakan pimpinan gereja Paus Urbanus V (1366) yang memberikan angin segar untuk kemajuan filsafat. Kemudian Thomas mengadakan langkah-langkah, yaitu:
Langkah pertama, Thomas menyuruh teman sealiran Willem Van Moerbeke untuk membuat terjemahan baru yang langsung dari Yunani.
Langkah kedua, Pengkristenan ajaran Aristoteles dari dalam. Bagian-bagian yang bertentangan dengan apa yang dianggap Kristen bertentangan sebagai firman Aristoteles, tetapi diupayakan selaras dengan ajaran Kristen.
Langkah ketiga, ajaran Aristoteles yang telah dikristenisasikan dipakai untuk membuat sintesa yang lebih bercorak ilmiah. Sistem barunya itu untuk menyusun Summa Theologiae.
Masa Skolastik Akhir
Masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya, sehingga memperlihatkan stagnasi pemikiran filsafat skolastik Kristen. Di antara tokoh-tokohnya adalah William Ockham (1285-1349) dan Nicolas Cusasus (1401-1464)
William Ockham
Ia sebagai ahli pikir Inggris yang beraliran skolastik, karena ia terlibat dalam pertengkaran umum dengan Paus John XXII, ia dipenjara di Avigon, tetapi ia dapat melarikan diri dan mencari perlindungan pada Kaisar Louis IV. Ia menolak ajaran Thomas dan mendalilkan bahwa kenyataan itu hanya terdapat pada benda-benda satu demi satu, dan hal-hal yang umum itu hanya tanda-tanda abstrak.
Menurut pendapatnya, pikiran manusia hanya dapat mengetahui barang-barang atau kejadian-kejadian individual, dan konsep-konsep atau kesimpulan-kesimpulan umum tentang alam hanya merupakan abstraksi buatan tanpa kenyataan. Pemikiran yang hanya demikian ini, dapat dilalui hanya lewat instuisi, bukan lewat logika. Di samping itu, Ia menambahkan anggapan skolastik bahwa logika dapat membuktikan doktrin teologis. Hal ini akan membawa kesulitan diriya yang pada waktu itu sebagai penguasanya Paus John XXII.
Nicolas Cusasus
Ia sebagai tokoh pemikir yang berada paling akhir masa skolastik. Menurut pendapatnya, terdapat tiga cara untuk mengenal, yaitu: lewat indera, akal, dan intuisi. Dengan indera kita akan mendapat pengetahuan tentang benda-benda berjasad yang sifatnya tidak sempurna. Dengan akal kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasar pada sajian atau tangkapan indera. Dengan intuisi, kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi. Hanya dengan intuisi inilah kita akan dapat mempersatukan apa yang oleh akan tidak dapat dipersatukan. Manusia seharusnya menyadari akan kebebasan akal, sehingga banyak hal yang seharusnya dapat diketahui. Oleh karena keterbatasan hal yang seharusnya dapat diketahui. Oleh karena keterbatasan akal tersebut, maka hanya sedikit saja yang dapat diketahui oleh akal. Dengan intuisi inilah diharapkan akan sampai pada kenyataan, yaitu suatu tempat dimana segala sesuatu bentuknya menjadi larut, yaitu Tuhan.
Pemikiran Nicolaus ini sebagai upaya mempersatukan seluruh pemikiran abad pertengahan, yang dibuat ke suatu sintesa yang lebih luas. Sintesa ini mengarah ke masa depan dan pemikirannya ini tersirat suatu pemikiran para humanis.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Ada juga yang mengatakan bahwa kata skolastik diambil dari schuler yang berarti ajaran atau sekolah. Jadi skolastik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah.
Dan dalam perkembangannya filsafat skolastik dipengaruhi dengan faktor religius dan juga faktor ilmu pengetahuan. Dimana dalam masa skolastik ini dibagi menjadi dua periodesasi, yaitu periode skolastik Islam dan periode skolastik Kristen.
Saran
Sebagai manusia, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, nampaknya masih banyak yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, penulis berharap adanya saran dan kritikan para pembaca makalah ini yang sifatnya membangun, demi perbaikan dimasa yang akan datang. Walaupun demikian, penulis sudah berusaha untuk mempersembahkan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak-pihak yang turut serta mendorong dan membantu penulis untuk menyelesaikan makalah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar